Epidemiolog Sebut Virus Nipah Berpotensi jadi Pandemi, Angka Kematian Capai 40-75 Persen

Epidemiolog Sebut Virus Nipah Berpotensi jadi Pandemi, Angka Kematian Capai 40-75 Persen

Epidemiolog dari Grififth University Australia, Dicky Budiman, mengatakan ancaman pandemi ke depan akan semakin sering. Sebagai peneliti, selama dua dekade terakhir saja dirinya telah menyaksikan hampir setiap lima tahun ada pandemi dan epidemi. Satu di antaranya adalah virus Nipah yang disebut memiliki potensi menjadi pandemi dengan angka kematian mencapai 40 hingga 75 persen.

Dicky mengatakan suatu penyakit memiliki potensi pandemi karena virus baru untuk manusia dan merupakan zoonatic virus ,yakni virus yang mulanya ada di hewan. Karena sebelumnya tidak ada pada manusia, maka manusia tidak memiliki kekebalan pada virus tersebut sehingga bisa menjadi pandemi. "Potensinya untuk menjadi pandemi jauh lebih besar dari Covid 19, karena angka kematiannya dapat mencapai 75 persen. Ini akan menyebabkan kematian yang banyak," ujarnya.

Selain itu, virus Nipah sendiri disebutnya cepat menular, sehingga virus ini bisa menginfeksi populasi yang telah terinfeksi virus. Disebutkan, bahwa virus Nipah dapat menular dari hewan ke manusia, dapat menular dari manusia ke manusia, dan dapat menular dari manusia ke hewan. Adapun hewan potensial yang dapat menularkan virus tersebut yakni kelelawar, babi, maupun kotoran hewan hingga makanan yang terkontaminasi.

"Kelelawar buah jadi host atau inang asli dari virus Nipah ini," katanya Dicky mengatakan, virus Nipah memiliki masa inkubasi yang panjang, yakni mencapai satu bulan bagi makhluk hidup yang terindikasi. Gejalanya pun beragam, ada yang tidak bergejala hingga menyebabkan gejala infeksi pernapasan, bahkan menyerang otak.

Virus Nipah merupakan satu dari 16 patogen ancaman yang diidentifikasi WHO menjadi ancaman kesehatan dunia karena berpotensi menjadi pandemi. Namun, virus ini belum mendapat dukungan riset untuk mengantisipasi ancaman jika menjadi wabah. Yang membuat khawatir ketika virus ini menjadi wabah di manusia adalah belum ada obat yang memadai untuk mengatasinya.

Belum ada vaksin untuk mengatasi pandemi dari virus Nipah tersebut, walaupun virus ini disebut sudah terdeteksi lama. "Belum ada obat yang bisa meng handle penyakit ini, yang tentunya akhirnya bisa menyebabkan situasi menjadi buruk," katanya. Dicky mengatakan bahwa masuknya dunia ke era pandemi salah satunya disebabkan oleh perilaku manusia sendiri yang mengabaikan keseimbangan alam.

Pembabatan hutan dan perilaku yang tidak harmonis antara manusia dan alam membuat dunia semakin rawan terhadap pandemi. "Perubahan iklim makin memperburuk situasi," katanya. Ia menjelaskan, di dunia ada sekiranya 1,6 juta jenis virus dimana sekitar 800 ribu virus menyebabkan infeksi.

Namun, manusia hanya baru mengetahui atau meneliti 1 persen virus di dunia, salah satunya ancaman virus Nipah. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa perilaku kehidupan normal baru ( new normal ) di masyarakat harus dilakukan untuk mencegah bermacam wabah. Pemerintah juga diimbau mempersiapkan sarana prasarana kesehatan yang memadai untuk mengantisipasi atau mencegah ancaman virus yang dapat menjadi pandemi lainnya.

"Virus Nipah ini salah satu penyakit yang paling ditakuti, karena kombinasi masa inkubasi yang lama dan angka kematian yang tinggi, dapat menyebabkan setengah penduduk wilayah habis jika ini tidak dicegah dari awal," ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top